Halaman

    Social Items

Visit Namina Blog
macam-macam puasa menurut syariat Islam

Puasa merupakan salah satu bagian dari Rukun Islam dan memiliki banyak manfaat baik untuk kesehatan jasmani maupun rohani kita. Orang yang berpuasa sama halnya dengan belajar untuk mengendalikan diri agar tetap menjadi manusia yang seutuhnya. Terhindar dari perbuatan dan pikiran yang buruk atau jahat. Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu melindungi orang yang memuliakan puasa dengan baik sesuai dengan syariat.

Puasa memiliki sejarah yang luar biasa di kehidupan manusia di bumi. Puasa dalam agama Islam memiliki berbagai macam sifat, yaitu puasa wajib, sunah, makruh dan haram. Dengan adanya macam-macam sifat puasa tersebut, bukan berarti menjadikan puasa lebih rumit dan susah untuk dipahami. Tetapi justru membuat kita akan lebih memahami dan menambah pengetahuan kita tentang puasa.

Ini juga membuktikan bahwa betapa sempurnya agama Islam yang telah di bawa oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam kepada umatnya. Beliau menciptakan sistem fikih yang sangat tepat bagi umat muslim, agar dapat merasakan kenikmatan dunia dan selamat di akhirat.


Baca Juga: Puasa Para Nabi, Mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad (Lengkap)


Menurut para ahli fikih, puasa yang ditetapkan oleh syariat sudah memiliki pengertian dan contoh masing-masing. Para ulama sudah mendeskripsikan dengan baik mengenai macam-macam puasa, antara lain sebagai berikut :

Macam -  Macam Puasa Wajib 


macam-macam puasa menurut syariat islam

Puasa wajib adalah puasa yang hukumnya wajib dilakukan. Ketika kita dapat melaksanakannya maka akan mendapat pahala, sebaliknya jika kita meninggalkannya maka akan mendapatkan dosa, kecuali jika ada keterpaksaan dan alasan kuat untuk tidak mengerjakannya (maka hal itu tidaklah mengapa, contoh bila sakit atau sedang dalam perjalanan). Adapun contoh puasa wajib sebagai berikut :

1. Puasa Ramadhan


Puasa Ramadhan adalah puasa yang dilaksanakan oleh seluruh umat muslim di dunia yang bertepatan di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan adalah puasa kemenangan bagi umat muslim dalam meraih rida-Nya. Seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185, yaitu :

"Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alqur'an. Alqur'an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil)." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat muslim. Semua perbuatan baik dan amal ibadah kita akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Ta'ala. Dan juga bulan diturunkannya Alqur'an dari malaikat Jibril kepada Rasulullah yang menjadi petunjuk dan pembeda antara yang benar dan salah.

Baca Juga: 5 Tips Sehat Selama Berpuasa di Bulan Ramadhan

2. Puasa Qodho


Puasa Qodho adalah puasa yang wajib dilakukan untuk melunasi hutang puasa yang sebelumnya. Puasa Qodho biasanya dikerjakan untuk mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena ada halangan, sakit, atau sedang berpergian sebanyak hari yang ditinggalkan (tidak berpuasa).


Baca Juga: Manfaat Puasa Ramadhan bagi Jiwa dan Tubuh Anda!

Puasa Qodho menjadi puasa yang wajib dilaksanakan, karena termasuk kategori berhutang. Dengan cara meng-qodho, hutang puasa kita dapat dilunasi. Seperti yang terkandung dalam Alqur'an berikut ini :

"(yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang dittinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan orang miskin. Barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

3. Puasa Kafarot


Puasa Kafarot adalah puasa yang dilakukan untuk menebus dosa akibat melakukan perbuatan buruk, seperti membunuh dan melanggar sumpah. Puasa Kafarot menjadi wajib, karena memberi kesempatan kepada kaum muslim untuk selalu bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan belajar mengoreksi diri sendiri terhadap perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

a. Pembunuhan

Ketika seorang muslim tanpa sengaja membunuh sesama muslim. Allah memberikan kesempatan untuk bertobat dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Karena bagaimanapun, membunuh adalah perbuatan yang dilarang keras oleh agama Islam.

Yaitu menebus perbuatannya dengan cara melakukan puasa selama dua bulan berturut-turut dan bertobat kepada Allah SWT, seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 92 berikut :

"Dan tidak layak bagi seorang mukmin menbunuh seorang mukmim (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat daripada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa [4]: 92)

b. Melanggar Sumpah

Allah tidak memberikan hukuman kepada kaum muslim jika kita melanggar sumpah yang telah diucapkan karena tidak sengaja. Tetapi ketika sumpah itu diucapkan dengan yakin dan sepenuh hati dengan niat bersungguh-sungguh, dan kemudian dilanggar, maka akan mendapatkan denda. 

Adapun pilihannya adalah: memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, memerdekakan hamba sahaya, atau berpuasa selama tiga hari berturut-turut. Seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut :

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yng biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)." (QS. Al-Maidah [5]: 89)

4. Puasa Nazar


Puasa Nazar yaitu puasa wajib yang dilakukan oleh orang yang telah bernazar puasa sebanyak hari yang telah diucapkan sebelum bernazar. Sebagaimana hadist yang telah diriwayatkan dimana Rasulullah pernah berkata: "Apabila seseorang bernazar menjalankan puasa, maka puasa nazar tersebut harus dipenuhi". (HR. Bukhari)

Dengan melaksanakan puasa nazar berarti kita sudah menepati janji kepada Allah SWT. Kita sebagai seorang hamba harus selalu menjalankan perintah dan larangan-Nya, agar mendapatkan Ridha-Nya selama menjalani hidup di dunia.

Macam -  Macam Puasa Sunnah


macam macam puasa wajib dan sunnah

Puasa sunnah adalah puasa yang bila dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan bila tidak dilaksanakan tidak mendapat dosa. Puasa sunnah adalah puasa yang dilatarbelakangi dengan tumbuhnya kesadaran seseorang dari dalam hati. 

Puasa sunnah berbeda jauh dengan puasa wajib, kalau puasa wajib lebih diwajibkan dan harus dilaksanakan. Tetapi puasa sunnah ketika dilaksanakan akan menciptakan ketulusan hati seseorang dalam beribadah. Puasa sunnah ada beberapa macam, antara lain :

1. Puasa Arafah


Puasa Arafah dilaksanakan ketika memasuki hari kesembilan pada saat memasuki bulan Zulhijah bagi kita yang tidak mengikuti ibadah haji di Mekkah agar mendapatkan pahala pada hari ke sembilan bulan zulhijah tersebut.

Sedangkan bagi yang sedang menunaikan ibadah haji di Mekkah akan lebih baik jika tidak melaksanakan puasa arafah ini dengan tujuan agar ibadah hajinya lebih maksimal dan dapat menyempurnakan rukun Islam. Namun, jika jamah haji sanggup dan kuat menjalankan puasa arafah, maka syariat Islam pun tidak melarangnya.

2. Puasa Zulhijah


Menunaikan puasa selama sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah sama saja dengan berpuasa selama setahun penuh. Selain berpuasa, juga disunnahkan untuk memperbanyak pahala dengan barzikir, istigfar, berdoa, bersedekah, dan lain sebagainya.

Selain itu keutamaaan lainnya jika mengerjakan shalat malam di bulan Zulhijah maka pahalanya sebanding dengan shalat malam pada malam Lailatul Qodar. 

3. Puasa Tasu'a 


Puasa Tasu'a adalah ibadah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharam dengan tujuan untuk mengiringi puasa esok harinya dan menjadi puasa pembeda antara Yahudi dan Nasrani. Seperti hadist dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, yaitu :

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharam itu hari yang digunakan dan diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani." Dan Rasulullah menjawab, "Jika datang tahun depan, Insyaallah kita akan berpuasa tanggal 9 Muharam". Ibnu Abas melanjutkan, "Namun belum sampai menjumpai bulan Muharam tahun depan, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam wafat". (HR. Muslim)

4. Puasa Asyura


Puasa Asyura merupakan ibadah puasa sunnah yang dilaksanakan setelah menunaikan puasa sunnah Tasu'a. Puasa asyura ini merupakan puasa turun-temurun dari nabi-nabi sebelumnya, dan juga dilaksanakan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui ucap Abu Qatabah al-Anshari Radiallahu 'Anhu bahwa : "Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa pada hari Asyura dan beliau menjawab, 'Ia akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang berlalu'." (HR. Muslim)

Dari hadist diatas, sudah jelas keutamaan melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharam. Allah akan mengampuni segala dosa yang telah kita lakukan sepanjang tahun.

5. Puasa Syawal


Puasa Syawal yaitu ibadah puasa sunah yang dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal. Puasa ini biasa dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tetapi sebenarnya puasa ini dapat dilakukan pada tanggal kapan saja selama masih memasuki bulan Syawal.

Keutamaan dari puasa Syawal disebutkan dalam hadist Rasulullah Shalallahu A'alaihi Wa Sallam, yaitu: "Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun." (HR. Ahmad dan Muslim)

6. Puasa Senin - Kamis


Puasa senin - kamis adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada hari senin dan kamis. Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, puasa sunnah ini selalu dikerjakan. Oleh karena itu, seluruh umat muslim juga sering menyunnahkan puasa senin-kamis ini. 

Keutamaan puasa sunah senin-kamis ini telah disebutkan dalam hadist Rasululullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Radiallahu 'Anhu, melalui ucapan Abu Hurairah, yaitu :

"Bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah yang paling banyak berpuasa pada hari senin dan kamis." Dan saat itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah ditanya oleh sahabat, Beliau memberikan jawaban, "Sesungguhnya segala amal dan perbuatan dipersembahkan pada hari senin dan kamis, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan mengampuni segala dosa setiap orang mukmin, kecuali dua orang yang bermusuhan." Maka Allah pun berfirman: "Tangguhkan keduanya." (HR. Ahmad)

7. Puasa Sya'ban


Puasa Sya'ban adalah puasa sunah yang dikerjakan pada bulan Sya'ban. Puasa Sya'ban merupakan puasa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada umat muslim di dunia. Berdasarkan Hadist yang telah diriwayatkan oleh Imam Nasa'i yang artinya :

"Saya berkata: "Ya Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya'ban," dan beliau menanggapi dengan bersabda: "Bulan itulah yang manusia lalai pada dirinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Rabbul 'Alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, pada waktu itu saya dalam keadaan berpuasa." (HR. Nasa'i)

8. Puasa 3 Hari di Pertengahan Bulan


Puasa tiga hari di pertengahan bulan, dikenal dengan puasa sunnah Ayyamul Bidh. Puasa ini merupakan puasa turun temurun yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu dan sampai sekarang tetap menjadi amalan sunah bagi umat muslim.

Puasa sunah ini dikerjakan tiga hari berturut-turut setiap bulan, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 dan bertepatan pada tengah-tengah bulan. Keutamaan puasa tertulis dalam Hadist yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui perkataan Abu Hurairah Radiallahu 'Anhu, sebagai berikut :

"Kekasihku yaitu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam telah memberi wasiat padaku. Ada tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan shalat Duha dan mengerjakan Shalat Witir sebelum tidur." (HR. Bukhari)

9. Puasa Ashurul Hurum


Puasa Ashurul Hurum adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada bulan-bulan haram, diantaranya yaitu bulan Dzulqa'dah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Puasa ini dikerjakan dengan maksud untuk membuang sesuatu yang diharamkan (meninggalkan sesuatu perbuatan atau segala suatu hal apa pun yang diharamkan oleh syariat) dan diganti dengan mengamalkan ibadah puasa sunah pada bulan tersebut.

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu," (QS. At-Taubah 9: Ayat 36)

Empat bulan tersebut merupakan bulan yang istimewa bagi kaum muslim untuk tetap mencari berkah dunia dan akhirat. Dengan cara berpuasa sunnah, membersihkan diri dan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam.


Macam-Macam Puasa Wajib dan Puasa Sunnah Menurut Syariat Islam

Butik78
macam-macam puasa menurut syariat Islam

Puasa merupakan salah satu bagian dari Rukun Islam dan memiliki banyak manfaat baik untuk kesehatan jasmani maupun rohani kita. Orang yang berpuasa sama halnya dengan belajar untuk mengendalikan diri agar tetap menjadi manusia yang seutuhnya. Terhindar dari perbuatan dan pikiran yang buruk atau jahat. Dan Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan selalu melindungi orang yang memuliakan puasa dengan baik sesuai dengan syariat.

Puasa memiliki sejarah yang luar biasa di kehidupan manusia di bumi. Puasa dalam agama Islam memiliki berbagai macam sifat, yaitu puasa wajib, sunah, makruh dan haram. Dengan adanya macam-macam sifat puasa tersebut, bukan berarti menjadikan puasa lebih rumit dan susah untuk dipahami. Tetapi justru membuat kita akan lebih memahami dan menambah pengetahuan kita tentang puasa.

Ini juga membuktikan bahwa betapa sempurnya agama Islam yang telah di bawa oleh Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam kepada umatnya. Beliau menciptakan sistem fikih yang sangat tepat bagi umat muslim, agar dapat merasakan kenikmatan dunia dan selamat di akhirat.


Baca Juga: Puasa Para Nabi, Mulai dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad (Lengkap)


Menurut para ahli fikih, puasa yang ditetapkan oleh syariat sudah memiliki pengertian dan contoh masing-masing. Para ulama sudah mendeskripsikan dengan baik mengenai macam-macam puasa, antara lain sebagai berikut :

Macam -  Macam Puasa Wajib 


macam-macam puasa menurut syariat islam

Puasa wajib adalah puasa yang hukumnya wajib dilakukan. Ketika kita dapat melaksanakannya maka akan mendapat pahala, sebaliknya jika kita meninggalkannya maka akan mendapatkan dosa, kecuali jika ada keterpaksaan dan alasan kuat untuk tidak mengerjakannya (maka hal itu tidaklah mengapa, contoh bila sakit atau sedang dalam perjalanan). Adapun contoh puasa wajib sebagai berikut :

1. Puasa Ramadhan


Puasa Ramadhan adalah puasa yang dilaksanakan oleh seluruh umat muslim di dunia yang bertepatan di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan adalah puasa kemenangan bagi umat muslim dalam meraih rida-Nya. Seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185, yaitu :

"Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alqur'an. Alqur'an adalah petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil)." (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa bagi umat muslim. Semua perbuatan baik dan amal ibadah kita akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Ta'ala. Dan juga bulan diturunkannya Alqur'an dari malaikat Jibril kepada Rasulullah yang menjadi petunjuk dan pembeda antara yang benar dan salah.

Baca Juga: 5 Tips Sehat Selama Berpuasa di Bulan Ramadhan

2. Puasa Qodho


Puasa Qodho adalah puasa yang wajib dilakukan untuk melunasi hutang puasa yang sebelumnya. Puasa Qodho biasanya dikerjakan untuk mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan karena ada halangan, sakit, atau sedang berpergian sebanyak hari yang ditinggalkan (tidak berpuasa).


Baca Juga: Manfaat Puasa Ramadhan bagi Jiwa dan Tubuh Anda!

Puasa Qodho menjadi puasa yang wajib dilaksanakan, karena termasuk kategori berhutang. Dengan cara meng-qodho, hutang puasa kita dapat dilunasi. Seperti yang terkandung dalam Alqur'an berikut ini :

"(yaitu) dalam beberapa hari tertentu. Maka barang siapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang dittinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidiah, (yaitu): memberi makan orang miskin. Barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS. Al-Baqarah [2]: 184)

3. Puasa Kafarot


Puasa Kafarot adalah puasa yang dilakukan untuk menebus dosa akibat melakukan perbuatan buruk, seperti membunuh dan melanggar sumpah. Puasa Kafarot menjadi wajib, karena memberi kesempatan kepada kaum muslim untuk selalu bertobat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dan belajar mengoreksi diri sendiri terhadap perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.

a. Pembunuhan

Ketika seorang muslim tanpa sengaja membunuh sesama muslim. Allah memberikan kesempatan untuk bertobat dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Karena bagaimanapun, membunuh adalah perbuatan yang dilarang keras oleh agama Islam.

Yaitu menebus perbuatannya dengan cara melakukan puasa selama dua bulan berturut-turut dan bertobat kepada Allah SWT, seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam surat An-Nisa ayat 92 berikut :

"Dan tidak layak bagi seorang mukmin menbunuh seorang mukmim (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barang siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat daripada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisa [4]: 92)

b. Melanggar Sumpah

Allah tidak memberikan hukuman kepada kaum muslim jika kita melanggar sumpah yang telah diucapkan karena tidak sengaja. Tetapi ketika sumpah itu diucapkan dengan yakin dan sepenuh hati dengan niat bersungguh-sungguh, dan kemudian dilanggar, maka akan mendapatkan denda. 

Adapun pilihannya adalah: memberi makan sepuluh orang miskin, memberi pakaian kepada sepuluh orang miskin, memerdekakan hamba sahaya, atau berpuasa selama tiga hari berturut-turut. Seperti dijelaskan dalam firman Allah SWT berikut :

"Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yng biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barangsiapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)." (QS. Al-Maidah [5]: 89)

4. Puasa Nazar


Puasa Nazar yaitu puasa wajib yang dilakukan oleh orang yang telah bernazar puasa sebanyak hari yang telah diucapkan sebelum bernazar. Sebagaimana hadist yang telah diriwayatkan dimana Rasulullah pernah berkata: "Apabila seseorang bernazar menjalankan puasa, maka puasa nazar tersebut harus dipenuhi". (HR. Bukhari)

Dengan melaksanakan puasa nazar berarti kita sudah menepati janji kepada Allah SWT. Kita sebagai seorang hamba harus selalu menjalankan perintah dan larangan-Nya, agar mendapatkan Ridha-Nya selama menjalani hidup di dunia.

Macam -  Macam Puasa Sunnah


macam macam puasa wajib dan sunnah

Puasa sunnah adalah puasa yang bila dilaksanakan akan mendapatkan pahala dan bila tidak dilaksanakan tidak mendapat dosa. Puasa sunnah adalah puasa yang dilatarbelakangi dengan tumbuhnya kesadaran seseorang dari dalam hati. 

Puasa sunnah berbeda jauh dengan puasa wajib, kalau puasa wajib lebih diwajibkan dan harus dilaksanakan. Tetapi puasa sunnah ketika dilaksanakan akan menciptakan ketulusan hati seseorang dalam beribadah. Puasa sunnah ada beberapa macam, antara lain :

1. Puasa Arafah


Puasa Arafah dilaksanakan ketika memasuki hari kesembilan pada saat memasuki bulan Zulhijah bagi kita yang tidak mengikuti ibadah haji di Mekkah agar mendapatkan pahala pada hari ke sembilan bulan zulhijah tersebut.

Sedangkan bagi yang sedang menunaikan ibadah haji di Mekkah akan lebih baik jika tidak melaksanakan puasa arafah ini dengan tujuan agar ibadah hajinya lebih maksimal dan dapat menyempurnakan rukun Islam. Namun, jika jamah haji sanggup dan kuat menjalankan puasa arafah, maka syariat Islam pun tidak melarangnya.

2. Puasa Zulhijah


Menunaikan puasa selama sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah sama saja dengan berpuasa selama setahun penuh. Selain berpuasa, juga disunnahkan untuk memperbanyak pahala dengan barzikir, istigfar, berdoa, bersedekah, dan lain sebagainya.

Selain itu keutamaaan lainnya jika mengerjakan shalat malam di bulan Zulhijah maka pahalanya sebanding dengan shalat malam pada malam Lailatul Qodar. 

3. Puasa Tasu'a 


Puasa Tasu'a adalah ibadah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharam dengan tujuan untuk mengiringi puasa esok harinya dan menjadi puasa pembeda antara Yahudi dan Nasrani. Seperti hadist dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, yaitu :

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya tanggal 10 Muharam itu hari yang digunakan dan diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani." Dan Rasulullah menjawab, "Jika datang tahun depan, Insyaallah kita akan berpuasa tanggal 9 Muharam". Ibnu Abas melanjutkan, "Namun belum sampai menjumpai bulan Muharam tahun depan, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam wafat". (HR. Muslim)

4. Puasa Asyura


Puasa Asyura merupakan ibadah puasa sunnah yang dilaksanakan setelah menunaikan puasa sunnah Tasu'a. Puasa asyura ini merupakan puasa turun-temurun dari nabi-nabi sebelumnya, dan juga dilaksanakan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.

Sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim melalui ucap Abu Qatabah al-Anshari Radiallahu 'Anhu bahwa : "Rasulullah pernah ditanya mengenai puasa pada hari Asyura dan beliau menjawab, 'Ia akan menghapus dosa-dosa sepanjang tahun yang berlalu'." (HR. Muslim)

Dari hadist diatas, sudah jelas keutamaan melaksanakan puasa pada tanggal 10 Muharam. Allah akan mengampuni segala dosa yang telah kita lakukan sepanjang tahun.

5. Puasa Syawal


Puasa Syawal yaitu ibadah puasa sunah yang dilaksanakan selama enam hari di bulan Syawal. Puasa ini biasa dilaksanakan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tetapi sebenarnya puasa ini dapat dilakukan pada tanggal kapan saja selama masih memasuki bulan Syawal.

Keutamaan dari puasa Syawal disebutkan dalam hadist Rasulullah Shalallahu A'alaihi Wa Sallam, yaitu: "Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian diikuti puasa enam hari bulan Syawal, maka itulah puasa satu tahun." (HR. Ahmad dan Muslim)

6. Puasa Senin - Kamis


Puasa senin - kamis adalah puasa sunah yang dilaksanakan pada hari senin dan kamis. Pada masa Rasulullah SAW masih hidup, puasa sunnah ini selalu dikerjakan. Oleh karena itu, seluruh umat muslim juga sering menyunnahkan puasa senin-kamis ini. 

Keutamaan puasa sunah senin-kamis ini telah disebutkan dalam hadist Rasululullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi Radiallahu 'Anhu, melalui ucapan Abu Hurairah, yaitu :

"Bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam adalah yang paling banyak berpuasa pada hari senin dan kamis." Dan saat itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam pernah ditanya oleh sahabat, Beliau memberikan jawaban, "Sesungguhnya segala amal dan perbuatan dipersembahkan pada hari senin dan kamis, maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan mengampuni segala dosa setiap orang mukmin, kecuali dua orang yang bermusuhan." Maka Allah pun berfirman: "Tangguhkan keduanya." (HR. Ahmad)

7. Puasa Sya'ban


Puasa Sya'ban adalah puasa sunah yang dikerjakan pada bulan Sya'ban. Puasa Sya'ban merupakan puasa sunnah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada umat muslim di dunia. Berdasarkan Hadist yang telah diriwayatkan oleh Imam Nasa'i yang artinya :

"Saya berkata: "Ya Rasulullah, saya belum pernah melihat Anda berpuasa dalam suatu bulan dari bulan-bulan yang ada seperti puasamu di bulan Sya'ban," dan beliau menanggapi dengan bersabda: "Bulan itulah yang manusia lalai pada dirinya antara Rajab dan Ramadhan. Dan merupakan bulan yang di dalamnya diangkat amalan-amalan kepada Rabbul 'Alamin. Dan saya menyukai amal saya diangkat, pada waktu itu saya dalam keadaan berpuasa." (HR. Nasa'i)

8. Puasa 3 Hari di Pertengahan Bulan


Puasa tiga hari di pertengahan bulan, dikenal dengan puasa sunnah Ayyamul Bidh. Puasa ini merupakan puasa turun temurun yang dilakukan oleh nabi-nabi terdahulu dan sampai sekarang tetap menjadi amalan sunah bagi umat muslim.

Puasa sunah ini dikerjakan tiga hari berturut-turut setiap bulan, yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15 dan bertepatan pada tengah-tengah bulan. Keutamaan puasa tertulis dalam Hadist yang telah diriwayatkan oleh Imam Bukhari melalui perkataan Abu Hurairah Radiallahu 'Anhu, sebagai berikut :

"Kekasihku yaitu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam telah memberi wasiat padaku. Ada tiga nasihat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati, yaitu berpuasa tiga hari setiap bulannya, mengerjakan shalat Duha dan mengerjakan Shalat Witir sebelum tidur." (HR. Bukhari)

9. Puasa Ashurul Hurum


Puasa Ashurul Hurum adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada bulan-bulan haram, diantaranya yaitu bulan Dzulqa'dah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Puasa ini dikerjakan dengan maksud untuk membuang sesuatu yang diharamkan (meninggalkan sesuatu perbuatan atau segala suatu hal apa pun yang diharamkan oleh syariat) dan diganti dengan mengamalkan ibadah puasa sunah pada bulan tersebut.

"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu," (QS. At-Taubah 9: Ayat 36)

Empat bulan tersebut merupakan bulan yang istimewa bagi kaum muslim untuk tetap mencari berkah dunia dan akhirat. Dengan cara berpuasa sunnah, membersihkan diri dan menjauhkan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syariat Islam.


Tidak ada komentar